wisata mangrove kulon progoWISATA HUTAN MANGROVE KULON PROGO

 

Hutan Mangrove Congot di Kabupaten Kulonprogo memang tampil beda. Biasanya wisata hutan mangrove terkesan kurang menarik, karena tampilannya begitu-begitu saja. Yaitu sekedar mengelilingi kawasan hutan mangrove melalui jembatan yang dibangun diatasnya. Namun berbeda dengan hutan mangrove Congot. Dengan sentuhan kreativitas, wisata Hutan Mangrove Congot menjadi sangat menggoda. Dan peran media sosial membuat popularitas hutan mangrove ini kian menjadi-jadi.

Hutan Mangrove Congot Kulon Progo berada di daerah Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, DIY, tepatnya di perbatasan Jogja-Purworejo.

Di kawasan hutan mangrove Congot seluas 3 hektar yang membentang di aliran Sungai Bogowonto, dan anak Sungai Bogowonto tersebut tidak hanya ada satu spot wisata, tetapi terdapat empat area wisata, yaitu Jembatan Api Api, Pantai Pasir Kadilangu, Wanatirta Pasir Mendit, dan Maju Lestari.

Dari ke-empat spot wisata tersebut, Jembatan Api Api lah yang paling nge-hits. Wisata Alam Hutan Mangrove Jembatan Api-Api ini masuk wilayah dusun Pasir Mendit. Meskipun letaknya di sebelah barat sungai Bogowonto, namun secara administratif dusun Pasir Mendit masih menjadi bagian wilayah Kulon Progo, Yogyakarta.

Menurut info, orang yang pertama kali menanam mangrove di sini adalah orang dari Aceh, yang biasa dipanggil warga setempat dengan panggilan “Cut”. Beliau menanam mangrove di sini awalnya untuk penelitian S2 nya di UGM, hingga berkembang menjadi hutan mangrove yang sangat berguna untuk mencegah abrasi dan sekarang malah berkembang lagi menjadi objek wisata. Pengembangan hutan mangrove ini dilakukan swadaya oleh warga setempat, yang terbagi menjadi beberapa kelompok (pokdarwis).

Pintu masuk menuju Kawasan Wisata Hutan Mangrove ini ada di Jalan Daendels, kira kira 300 meter sebelah barat jembatan Congot (kiri jalan), disitu ada papan petunjuk arahnya di depan jalan masuk. Menyusuri kawasan hutan mangrove ini pengunjung akan berjalan di atas jembatan bambu yang dibuat memanjang mengitari hutan bakau. Di beberapa titik tertentu pengelola menyediakan ayunan, gazebo kecil, dan spot menarik untuk berfoto. Dan yang menjadi point of interest dari tempat ini adalah jembatan api-api.

Nama “api-api” ini sendiri merupakan nama salah satu jenis mangrove yang tumbuh di kawasan tersebut yakni avicennia germinans atau yang dikenal dengan jenis api-api. Jembatan Api-Api dibangun pada 2011 lalu untuk mendukung mobilisasi penambak udang. Namun, belakangan jembatan tersebut ternyata memiliki peran tambahan sebagai pendukung objek wisata, seiring dengan semakin populernya kawasan hutan mangrove di sana. Karena besarnya antusiasnya pengunjung yang ingin berfoto diatas jembatan, jembatan api-api ini sempat ambruk. Namun sudah diperbaiki secara total, menjadi lebih cantik dan lebarnya menjadi 1,5 meter, sehingga pengunjung lebih leluasa berlalu-lalang. Salah satu hal yang paling menarik di lokasi ini adalah tersedianya sejumlah spot foto yang sangat menggoda. Setidaknya ada 10 spot foto dengan konsep yang berbeda-beda yang disiapkan pengelola wisata. Selain jembatan yang menjadi ikon utama, jembatan melingkar berbentuk hati adalah spot favorit pengunjung untuk foto-foto.

Ada juga spot bingkai asmara, yang dibangun menggunakan kayu dan berlatar hutan mangrove. Lalu ada juga spot foto yang dilengkapi gitar raksasa dan berlatar hutan mangrove. Di tengah rimbunnya mangrove juga terdapat pondokan sederhana yang bisa digunakan untuk bersantai. Untuk kenyamanan pengunjung, sejumlah fasilitas seperti toilet, dan musala telah disediakan pengelola. Selain menyusuri hutan mangrove lewat jembatan, pengunjung juga bisa menikmatinya dengan naik perahu, tarifnya Rp 5 ribu per orangnya. Keliling hutan mangrove Congot dengan perahu. Sedangkan tiket masuk ke Jembatan Api Api sebesar 4 ribu/orang dan parkir motor 2 ribu dan mobil 5 ribu. Kalau mau masuk ke objek wisata lain seperti Pantai Pasir Kadilangu, pengunjung harus bayar tiket lagi, karena beda pengelolanya. Wisata hutan mangrove Congot ini setiap harinya dibuka dari jam 06.00 hingga 19.00. Namun waktu terbaik untuk menikmatinya adalah pagi atau setelah jam 3 sore. Di siang hari cuaca cenderung sangat panas, dan ini tentunya mengurangi kenyamanan untuk menikmati pemandangan di hutan mangrove ini.

Jika waktunya cukup, tak ada salahnya sekalian ke pantai Congot. Dari area hutan mangrove ini ada akses menuju pantai selatan yang terkenal dengan ombak ganasnya. Kita tinggal lanjut jalan kaki aja kesana, dengan sekali lagi melewati area tambak udang. Di pantainya ada fasilitas ayunan yang fotogenik, yaitu memang sengaja dibuat untuk spot foto-foto, bukan untuk dinaiki betulan.

 

RUTE MENUJU HUTAN MANGROVE CONGOT

Untuk mencapai lokasi Hutan Mangrove Pasir Mendit ini bisa ditempuh dari dua jalur, yaitu jalur utara dan jalur selatan. Jika dari Jogja menuju ke Hutan Mangrove Kulon Progo cukup ambil arah ke jalan Wates, kemudian lurus terus hingga sampai ke pertigaan patung kuda (Nyi Ageng Serang), lalu ambil arah ke kiri (Purworejo) lurus terus hingga sampai ke terminal Wates. Dari sini terus ke barat sampai menemukan Rumah Makan Padang Sederhana, sebelah baratnya ada pertigaan ambil kiri yaitu jalur ke arah Pantai Congot. Setelah sampai pertigaan (ke kiri Pantai Conot), terus ke barat hingga melalui Jembatan, setelah itu belok kiri (Arah Desa Jangkaran). Dari situ sudah banyak petunjuk arah ke Hutan Mangrove Pasir Mendit.

Jika dari arah Bantul mau ke Hutan Mangrove Kulon Progo, tinggal ikuti arah ke Pantai Glagah melalui Jalan Daendels, lurus ke Barat sampai menemukan Jembatan seperti yang disebut di atas.

 

Source : http://www.travelling.web.id/2016/09/jembatan-api-api-spot-paling-ngehits-di-hutan-mangrove-kulon-progo.html

Pin It on Pinterest